haruskah aku berlari lagi? atau mungkin sebaiknya aku bersembunyi? merasa tiap hal memberati merasa kebodohan ini teralu menyesaki hati. haruskah aku pergi? atau mungkin sebaiknya ku hadapi? terlalu bimbang aku menapaki terlalu lelah aku menyesali. Haruskah aku berjalan kembali? atau sebaiknya aku sejenak merenungi? karena tak mudah bagiku memilih terus bertahan atau lari bersembunyi
Senin, 22 Agustus 2016
Haruskah??
Haruskah aku tetap menunggumu, seseorang yang dengan sadar telah memalingkan wajah dari sayangku? Haruskah aku mengejarmu, seseorang yang dengan sengaja telah berlari menjauh dari cintaku. Haruskah aku membencimu, seseorang yang dengan sabar ajarkan aku arti ketulusan? Haruskah aku melupakanmu, seseorang yang dengan baik hati telah menumbuhkan rasa indah? Mengingatmu menyakitiku, melupakanmu aku tak mampu :(
Masih Tentangmu
Aku masih berada disudut yang sama masih mengulang mengingat memori yang sama dengan orang yang sama, kamu. Bertubi aku nyaris putus asa berkali aku hampir berlutut dan memohon namun, rasa antipatimu pada sisi lemahku membuatku kembali bertahan kembali membuatku berdiri, menyeka air mata. Sejujurnya kau adalah pria paling keras kepala dan egois yang pernah ku kenal dan sialnya aku menyadari sepenuhnya pesonamu dan mungkin entah bodoh atau naif memilih untuk jatuh cinta padamu.
Senin, 08 Agustus 2016
Sebuah Rumah untuk "Harapanku"
Hai Harapanku, semoga kamu senantiasa "hidup". Karena "hidup"mu adalah nyawaku untuk tetap ada dan berjuang. Saat surat ini diketik, kamu pasti sedang tertidur di mobil dalam perjalanan menuju keajaiban dunia. Sedangkan aku tengah tersenyum membayangkan kamu, kita, dan masa depan. Menyenangkan. Harapanku, Bagaimana rasanya mendampingiku? Apakah rasanya sebahagia mendampingimu? Atau justru menyebalkan? Harapanku, melalui surat ini, aku ingin menyampaikan hal yang sebenarnya sudah sering kuucapkan. Aku ingin berterima kasih atas keberadaanmu, bahkan di dalam ketiadaanmu. Terima kasih karena kamu selalu bisa diandalkan. Terima kasih untuk ketulusan yang tak pernah habis. Terima kasih untuk keinginanmu tumbuh dan belajar bersama bersamaku. Terima kasih telah memenuhi butuhku dan telah membutuhkanku. Terima kasih banyak. Harapanku, Melalui surat ini, aku ingin mengungkapkan alasanku memilihmu, sesuatu yang pernah kau tanyakan tempo hari. Harapanku, aku memilihmu karena aku melihat ketulusan di matamu. Sesuatu yang tidak bisa dimiliki dengan ijazah atau harta. Aku memilihmu karena keinginanmu yang kuat untuk menjadi lebih baik, lagi dan lagi. Sesuatu yang kubutuhkan untuk anakku nanti. Harapanku, aku memilihmu karena keras kepalamu dalam kebaikan. Sesuatu yang akan jadi semangatku untuk mencapai tujuan. Harapanku, seperti kau tahu, jalan untuk menuju rumah kita masih sangat jauh. Mungkin tidak akan mudah. Maukah kamu menggenggam tanganku erat dan berjalan bersama? Maukah kamu menumpuk lebih banyak sabar untuk aku yang keras kepala? Maukah kamu melembutkan suaramu untuk menasehatiku? Maukah kamu meluangkan waktumu di antara sibukmu untuk mendengarkan remehku? Karena jika kamu menanyakan hal yang sama, aku akan menjawabnya dengan, "Aku akan senang hati melakukannya untukmu, untukku, dan untuk kita".
"Harapanku, Surat ini akan kuakhiri dengan satu doa. Satu harapan. Satu kamu. Semoga akan lebih banyak mimpi kita yg kita raih. Semoga.
Aku BenCintaimu
Aku benci kamu. Aku benci saat perasaan gugup diam-diam memeluk, Dan menjadi semakin erat ketika kau semakin mendekat. Aku sesak, Aku benci kamu. Bila kau bertanya sebuah pertanyaan yang tak dapat ku jawab. Aku benci terlihat bodoh didepanmu. Aku benci saat kau menggodaku. gAku benci saat jantungku berhenti sesaat. Namun, kemudian berdegup sangat cepat. Aku benci saat kau menatapku. Aku benci menjadi memerah. Aku benci menjadi salah tingkah. Aku benci kehilangan kata. Aku benci saat aku tak lagi dapat menahan rasa. Aku benci menyadari kedunguanku mengungkapkan perasaanku. Aku benci saat kau hanya tersenyum manis untuk menjawabnya. Aku benci menjadi terpaku.
Aku bencintaimu.
Bagaimana Jika??
Bagaimana jika bukan aku yang terlebih dahulu mencintaimu???
Bagaimana jika aku menahan perasaanku??
Bagaimana jika aku tak memperjuangkan keinginanku??
Bagaiamana jika aku ternyata tak rasakan rasa yang sama???
Karena setiap kisah begitu saja terbaca..
Bagai melodi yang digumamkan saat senja. Sesederhana hujan yang datang tanpa bicara Dan bintang yang berbinar tanpa jeda. Konon cinta tak mengenal tanda tanya, Katanya cinta juga hadir tanpa alasan, tapi kuyakin tak ada yang lebih abadi dari Tuhan. Maka bisa saja rasa yang kau sebut cinta ini berakhir dan menghilang
Perlahan...
Atau tiba-tiba....
Kamu ku
Aku tak pernah takut kehilangan kamu. Karena ku tahu cepat atau lambat aku harus melepasmu pergi. Yang ku takutkan adalah ketika kau sakit namun aku tak berada disisimu. Aku tak pernah khawatir ketika aku harus berbagi cintamu. Karena ku pahami duniamu bukan hanya tentang aku,tak cuma berisi cerita cinta kita. Yang ku khawatirkan adalah saat kau galau dan aku tak dapat lagi tenangkan hatimu dengan pelukan atau candaku. Bila saat itu datang, saat dimana kau harus melangkah pergi. Aku ingin kau berjalan tanpa menoleh lagi. Dan biarkan aku mengantarmu, melambai dan tersenyum. Berbalik dan tak kan menangis. Tak kan ada air mata yang memberatkanmu. Tak akan ada rajukan yang menghalangimu. Dan biarkan koyak ini ingatkan betapa manisnya aku pernah dikasihi :)
Sabtu, 23 Juli 2016
Game Over
Saya selalu ingin menenangkanmu, agar mampu memenangkanmu. Kemenangan yang saya sendiri seringnya keliru. Mungkin ada baiknya saya bisa lebih percaya saat mereka bilang, "Ceritain aja, jadi gak berasa kayak berjuang sendirian." Tapi saya lebih memilih percaya pada kemampuan saya mengenal dirimu saat itu. Ternyata saya salah. Untuk apa yang sedang saya perjuangkan saya menyimpannya dalam-dalam. Bukan karena saya tidak ingin berbagi hal tersebut, hanya saja, semua masih bisa saya kendalikan sendiri. Dan saya juga tidak ingin menambah kerumitan yang adadikepalamu.Ternyata saya salah.Karena saya menyimpannya terlalu baik, banyak cerita yang kamu lewatkan. Tapi selagi semuanya baik-baik saja itu berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan, begitu cara kerjanya kan? Meski sebenarnya ada banyak kegundahan, saya lebih memilih menenangkan kegaduhan dalam kepalamu. Saya kira cinta bekerja demikian. Ternyata saya salah. Saya merasa sedang berjuang kemudian dipatahkan. Saya ulangi. Saya sedang berjuang kemudian dipatahkan, ketika saya merasa lelah dengan semuanya. Lelah hanya butuh istirahat, bukan?? Ternyata saya salah. Iya, disini saya yang salah. Seharusnya saya mampu menjadi manusia yang lebih pandai bercerita, seharusnya saya ini manusia yang lebih pandai menyampaikan inginnya, dan seharusnya saya tidak merasa lelah. Bukannya setiap manusia memiliki batas lelah? Tidak, saya tidak bermaksud ingin membela diri, tapi saya juga manusia, dan saya memiliki batas lelah. Ketika semua terjadi diluar prediksi saya, diluar batas kemampuan saya hingga semua mulai terasa berat, merasa lelah adalah sebuah kewajaran. Dan lelah hanya butuh disemangati kembali, bukan? Lalu kenapa saya ditinggalkan? Tapi tak apa, saya tidak marah. Saya salah dan saya terima kekalahan saya. Mungkin Tuhan hanya tidak ingin melihat saya lebih lama berjuang untuk sesuatu yang memang bukan milik saya. Tuhan tidak akan mengambil sesuatu dari kita kecuali digantikan dengan yang lebih baik, kan? Kamu sudah baik bagi saya, dan ternyata Tuhan menyiapkan yang lebih baik, saya hanya perlu sedikit lebih bersabar.
Untukmu
Sini mendekat, biar ku jelaskan padamuapa-apa yang sempat terlewat. Ha, Kepayahan apa yang kau temukan hari ini untuk bisa kita tertawakan? Rasanya kita sudah berbagi berbagai macam cerita tetapi kita tidak pernah kehabisan bahan cerita. Kita lucu, bukan? Bahkan naik turun index saham pun bisa menjadi perdebatan buat kita. Tidak cuma itu, manajemen perusahaan yang payah atau bahkan kinerja pejabat yang menggemaskan pun bisa menjadi topik malam minggu kita. Dan aku tidak pernah kehabisan kata untuk selalu bersyukur atas hadirnya kamu. Kamu yang betah berlama-lama bercerita sebelum akhirnya tertidur pulas. Kamu yang bersedia bersusah payah menjaga lelah agar aku tidak marah. Kamu yang dengan segala harap bersedia menelan ego agar kaki kita tetep berdiri tegap. Aku tahu, menjadi dirimu tidaklah mudah. Banyak hal yang begitu rumit yang silih berganti dikepalamu. Percayalah, aku selalu berusaha untuk tidak menjadikannya lebih rumit, meskipun aku sadar penuh, perempuan sepertiku sangatlah merepotkan. Ketahuilah, untuk segala yang melelahkan, aku selalu bersedia mendengarkan. Kau bisa berbagi pilu padaku, keluhmu bahkan peluhmu akan ku daur ulang menjadi senyum dibibirmu. Tidak, aku sedang tidak berjanji padamu. Aku hanya akan melakukan yang ku mampu. Meski kita telah membahas seisi dunia, aku selalu ingin berbagi cerita denganmu. Dan untuk apa-apa yang sempat terlewatkan karena intensitas pertemuan yang terbatas, tenanglah, aku masih disini dankita bisa mengulangnya dengan bebas. Karena hidup bukan hanya menemukan bagaimana caranya bahagia, tetapi bagaimana caranya bertahan meski sedang tak membahagiakan. Untukmu, terima kasih karena telah ada dan memilih tidak kemana-mana. Tertanda, Perempuanmu.
Rumah
"karena pulang dan kembali adalah satu-satunya tujuan setelah perjalanan, perjuangan dan pengorbanan" hmm, bayangkan kau adalah seekor burung merpati dan aku adalah rumahmu. Karena kesalahanku, aku mematahkan sayapmu dan kaupun terluka. dalam beberapa waktu kau telah berhasil menyembuhkan lukamu sendiri, lalu kemudian kau mulai bangkit dan kembali merbangkan sayapmu. karena aku hanya sebuah rumah, aku terpaku melihatmu terbang tanpa mampu mengejar. Kaupun mulai memilih mencari rumah lainyang lebih mampu melindungimu. aku tak apa, kan ku biarkan rumahmu yang ini kosong. namun kini aku mulai kewalahan akan merpati lain atau bahkan gagak yang mencoba menerobos masuk ke pintu rumahmu. meski jika kau telah temukan rumah yang lebih baik, tetap tak akan ku biarkan merpati mana pun yang masuk ke rumahmu ini. Dan kau, kau boleh kembali ke rumahmu ini kapanpun. saat kau terluka, saat kau kehilangan arah. karena ini rumahmu dan setiap merpati yang indah akan selalu kembali ke rumah utamanya; aku. Namun jika rumah yang kau miliki sekarang lebih indah dan lebih mewah, biar ku hancurkan saja rumahmu ini. sudah ku katakan tidak akan ada merpati lain selain dirimu yang aku izinkan menempatinya. maka izinkanlah aku menghancurkan diriku sendiri agar ada rumah baru yang bisa ku bangun lagi nanti, dan bukan milikmu lagi.
Rabu, 20 Juli 2016
Cita-Cita Seorang (Calon) Istri
Apa cita-cita kamu setelah menikah dan menjadi istri? Punya rumah besar? Mobil keluaran terbaru? Segera punya anak? Apa saja, selama baik, berdoa dan berusahalah terus untuk meraihnya.
Saya? Saya adalah perempuan yang bercita-cita menjadi seorang istri dan ibu yang baik, yang bukan hanya bisa mengurus anak, rumah, dan suami, tetapi juga bisa mencari uang untuk paling tidak menghidupi hobi sendiri. Saya pengennya sih bisa mandiri, kalo kepengen apa-apa bisa beli sendiri, nggak harus minta apalagi sampe merengek ke suami. Biarlah dia cukup dipusingkan dengan biaya rumah tangga dan pendidikan anak, urusan kepengenan saya pengennya bisa saya penuhi sendiri. Malah saya akan lebih senang kalo penghasilan saya bisa support suami juga, kan pernikahan di bayangan saya itu semuanya harus ditanggungy bersama. Itu kan pengennya, semoga dikasih jalannya. Udah, gitu aja?? Nggak. Saya pengen bisa nyiapin sarapan untuk anak-anak dan suami saya setiap pagi sebelum saya berangkat ke kantor. Bisa pulang cepat untuk menyiapkan makan malam untuk mereka, atau sekadar snack malam hari buat nemenin (calon) suami saya begadang nonton Arsenal. Bisa ngajarin anak saya bahasa Indonesia yang baik, bisa melindungi dan menjaga anak-anak saya dari konten Youtube yang isinya cuma “anjing, bangsat, video mesum!!”. Bisa nemenin anak-anak saya main setiap weekend, beli mainan dan buku cerita, berenang, jalan-jalan ke taman dan museum, atau masakin Bakso, nasi goreng dan Soto kesukaan (calon) suami saya. Kalau belum punya anak? Saya pengen jadi istri yang bisa mendengarkan suaminya, muluknya, pengen bisa bantu suami untuk menyelesaikan masalahnya. Tapi kadang, kita punya keterbatasan, kan. Jadi, kalo nggak bisa bantuin, paling tidak saya bisa bikin dia lebih tenang dan merasa semuanya akan baik-baik saja (walau kenyataannya tidak). Saya pengen jadi istri yang setiap suami saya bangun tidur, saya udah ada di depannya membawa secangkir kopi hitam kesukaannya serta sebuah kecupan yang tak kalah hangat. Saya pengen jadi istri yang ketika suami saya pulang ke rumah, saya udah cantik dan wangi, sudah menyiapkan makan malam, sudah siap memeluknya dan mendengarkan bagaimana harinya berjalan. Saya pengen jadi istri yang setiap malam sebelum tidur, bisa diajak berdiskusi soal pekerjaannya, sepatu-sepatu adidas incarannya, soal bidding-bidding yang ia menangkan, atau soal temannya yang dia bikin sirik karena dia yang dapet sepatu incaran. Saya pengen jadi istri yang bisa diajak bebodoran, tertawa bersama, karokean lagu-lagu zaman dulu, dengerin dia nyanyi sampe ngegrowl walau suaranya pas-pasan dan berakhir dengan kami ketiduran. Saya pengen jadi istri yang tiap dia masuk angin atau kakinya pegel-pegel, saya tinggal pijetin dan bikinin teh hangat, jadi dia nggak perlu lari ke tempat pijit. Saya pengen jadi istri yang nggak lupa pernah sama kewajibannya, dan punya suami yang nggak pernah lupa untuk memberikan hak-hak istrinya. Apa saja itu? Dikompromikan dahulu. Banyak juga ya kepengenannya. Lho, bukan cuma itu. Saya juga pengen jadi istri yang bisa bilang “saya punya” ketika dia sedang kekurangan, atau “saya bisa” ketika dia tidak mampu, atau “saya kuat” ketika dia merasa lemah. Bukan karena dia tidak sempurna dan saya harus menyempurnakannya, tapi karena saya ada untuk membuat hidupnya lebih mudah, bukan menyusahkannya. Karena saya pun nggak sempurna, saya pun nggak lengkap, saya cuma butuh seseorang yang bisa membuat hidup saya lebih ringan ketika beban sedang berat-beratnya. Pun dia. Masih ada lagi? Ada, dong. Saya pengen jadi istri yang bisa dia ceritakan ke orang lain dengan mata berbinar-binar dan bibir tersenyum. Istri yang juga disayangi oleh keluarganya. Istri yang dengan bangga dia gandeng ke setiap undangan. Muluk, ya? Saya pengen begini, saya pengen begitu…
Saya nggak perlu mempertanyakan apakah dia akan melakukan hal yang sama, karena dengan memutuskan untuk mengatakan “iya” saat dia (nanti) melamar saya, saya yakin kalau dia akan menjadi sebaik-baiknya suami, sepantas-pantasnya lelaki.
Minggu, 17 Juli 2016
Yang Belum Sempat Terucap
Terima kasih sudah hadir di hidup saya. Walau jalannya tak pernah mudah, terima kasih karena sudah mengajak saya melangkah sampai sejauh ini. Bersamamu, saya mengerti bahwa kita harus berjalan beriringan, bukan berseberangan. Ingatlah bahwa saya akan selalu menjadi teman yang akan mendampingimu sampai ke tujuan, untuk membuat mimpi-mimpimu tak lagi semu. Terima kasih untuk kesabarannya, pengertiannya, kasih sayangnya, perhatiannya, rindunya, temunya, tawanya, air matanya, dan segala macam tetek-bengeknya. Terima kasih karena kamu selalu memberikan saya kesempatan untuk berubahdan memperbaiki diri, tak pernah bosan walau saya kerap kali keras kepala, egois, atau cemburuan. Terima kasih sudah memercayai bahwa saya adalah jodohmu walau saya jauh dari kesempurnaan. Percayalah bahwa saya akan selalu berusaha memantaskan diri untuk berada di sampingmu. Kelak, untuk memegang tanganmu, untuk menyandang nama belakangmu, untuk membuatkan kopimu. Terima kasih sudah membuat saya merasa begitu dihargai, dicintai, dan diperjuangkan. Hal-hal yang mungkin tak pernah benar-benar saya rasakan sebelum kehadiran kamu. Terima kasih untuk selalu menjadi yang pertama, dan semoga, yang terakhir dan satu-satunya, di berbagai pengalaman hidup saya.Terima kasih atas segala usahamu, besar dan kecil, yang kamu lakukan untuk kebahagiaan saya. Ingatlah bahwa saya mencintaimu lewat hal-hal sederhana. Sesederhana sebuah pelukdi penghujung hari, sesederhana sebuah kecup di pagi hari. Terima kasih atas banyak hal yang sudah kamu ajarkan, berikan, perlihatkan kepada saya. Yang saya tahu, kini, cinta itu bukan hanya dapat dirasakan, namun juga dapat dilihat; Kamu. Untuk Bunt, saya cinta kamu, lebih dari cinta-cinta saya yang lalu.
Sabtu, 16 Juli 2016
Untuk Lelakiku Bunt
Saya yakin kalau semua orang pasti pernah jatuh cinta, entah cintanya berbalas atau bertepuk sebelah tangan. Saya yakin kalau semua orang pasti pernah mencintai dengan begitu dalam dan sepenuh hati, entah dia mengharap balasan atau memilih mengikhlaskan. Dan saya juga yakin kalau semua orang pasti pernah merasa dicintai dengan begitu tulus, entah dia membalasnya atau memilih tak menghiraukannya.Tetapi, apakah semua orang pernah merasa bahwa ia sudah berhenti mencari? Belum tentu. Ini, yang kini membedakan saya dengan mereka. Saya berhenti mencari, saya berhenti di kamu. Semua yang sebelum kamu rasanya tak lagi berarti. Kamu, kini jadi dunia saya. Dunia yang tak lagi sama, dunia yang berputar dan terbalik tak tentu arah, dunia yang penuh dengan hal-hal tak biasa yang juga tak pernah saya temui sebelumnya. Dunia yang saya benci dan saya cintai secara bersamaan. Dunia yang tak ingin saya tinggalkan. Saya berhenti mencari, saya berhenti di kamu. Kamu adalah senyata-nyatanya lelaki yang saya inginkan, dan beruntungnya, kamu juga yang sebenar-benarnya lelaki yang saya butuhkan. Saya berhenti mencari, saya berhenti di kamu. Saya tak pernah berhenti mengucap syukur atas kehadiranmu, yang entah bagaimana, menjadi alasan hadirnya tawa dalam hidup saya. Sebelum kamu, tawa tak pernah datang sesering ini. Untuk Bunt lelaki yang telah membuat saya berhenti mencari dan jatuh cinta setiap hari; saya cinta kamu tanpa tapi.
Kamis, 07 Juli 2016
Apa Adanya Kamu Bunt (2)
Denganku, kamu tidak perlu takut tidak diterima. Kamu tau aku orang paling bertoleransi dengan apapun yang ada. Denganku, kamu tidak perlu takut ditinggalkan. Kamu tau aku orang paling setia dengan apapun yang aku suka. Denganku, kamu tidak perlu memaksa mengubah diri. Aku menyayangi kamu apa adanya. Dan akan begitu seterusnya. Denganku, kamu tidak perlu memaksa menjadi kaya. Bahkan ketika kamu hanya bisa memberiku senyum, aku sudah bisa begitu bahagia. Denganku, kamu tidak perlu bersusah payah tampil sempurna. Di mataku, kamu sudah begitu manis seperti biasa. Denganku, kamu tidak perlu memanjakanku dengan perjalanan mahal dan kencan mewah. Cukup dengan mengajakku berjalan sambil melihat bintang, atau sekedar duduk di rumput sambil berbincang.... Denganku, mungkin kamu akan sering kecewa dan marah, walau sebaik apapun aku berusaha dan bersusah payah. Tapi percayalah, untukmu, aku adalah orang yang pantang menyerah. Denganku, mungkin kamu akan sering kesal, karena aku yang tidak begitu pintar. Tapi yakinlah, aku cukup taubahwa kamu adalah guru yang paling bisa mengajarkanku segalanya. Denganku, mungkin kamu akan membandingkan, tentangku yang tidak sesempurna masa lalumu. Tapi ketahuilah,aku mungkin tidaksempurna tapi aku adalah yang paling bersikeras membuatmu bahagia.... Denganmu, aku akan berusaha menjadi apa yang kamu mau. Tapi denganku, kamu diterima apa adanya kamu.
Apa Adanya Kamu Bunt
Nanti jika suatu hari kamu tau tentang perasaan ini, kamu mungkin akan bertanya, tentang apa yang membuatku suka. Kamu pasti akan merendah dengan mengatakan bahwa kamu bukan siapa-siapa. Mungkin kamu juga akan mengatakan kamu belum menjadi apa-apa. Kamu mengatakan bahwa kamu tidak tangguh. Kamu tidak suka melakukan perjalanan jauh.Kamu tidak tertarik naik gunung. Kamu benar-benar tidak sepertiku. Kamu mengatakan tentang kamu yang kikuk, yang seringkali tidak peka dengan perasaanku. Yang mungkin akan bingung sendiri dengan diamku. Kamu bicara tentang hidup mewah, yang mungkin tidak akan aku dapatkan bila bersamamu. Tidak ada kejutan-kejutan manis karena kamu bukan orang yang romantis. Lalu, biar kubilang padamu tentang ini. Aku sedang tidak mencari teman naik gunung, ataupun seorang psikolog yang bisa membaca perasaan, tidak juga seorang milyarder. Aku mencari orang yang rendah hati, yang tidak pernah menyombongkan apa yang dia miliki. Aku mencari teman yang dengannya, aku bisa bahagia dengan apa adanya dia. Denganmu, aku melihat kebahagiaan itu. Denganku, kamu diterima apa adanya kamu.
Selasa, 31 Mei 2016
Sejauh-jauhnya dekat
letakkan tanganmu pada bagian yang paling mendebarkan saat mata kita beradu pandang, pada detik itulah satu hati lagi-lagi jatuh ditanganmu. Disepertiga malam seperti ini pikiranku mudah sekali membayangkan tentangmu, rasanya seperti sudah ada campur tangan Tuhan disana. Ahya ingat saat kamu pernah bertanya apa aku pernah membayangkan tentangmu? Aku hanya menanggapinya dengan gurauan saat itu, namun sekarang biar ku beri tau bahwa ada bagian dari milikku yang tidak pernah berhenti memikirkanmu, sesibuk bahkan serumit apapun saat itu. Semoga akan selalu seperti ini, mengingat hal-hal baik tentangmu, karena mengingat adalah satu-satunya cara kita menjadi dekat meski sejauh-jauhnya kita bertempat. Sayang, mereka bilang cinta bisa melipat jarak, sepertinya kita hanya memerlukan dua lipatan untuk menjadi dekat, ah kesibukanmu yang seharusnya dilipat. Hahaha. Aku tidak pernah lelah mendoakan setiap kebaikan untukmu, ingatlah untuk selalu berucap 'Aaamiin' setelah kamu mendengar suara lonceng gereja, namamu selalu ada sebelum aku membuka lipatan tanganku. Bagaimana dengan melipat waktu? Rasanya aku sudah tidak sabar bertukar cerita denganmu. Sayang, mereka bilang pilihlah pasangan yang menyenangkan untuk bercerita. Aku tahu itu keahlianmu, maka jangan pernah sungkan untuk menceritakan apapun padaku, apapun termasuk luka. Sudah kusiapkan obat merah jika tiba tiba berdarah ketika kamu bercerita. Sayang, bisa membantuku meringankan kekhawatiran? Cukup pastikan perutmu kenyang dan hatimu senang, apapun yang sedang kamu lakukan aku percaya penuh padamu. Satu lagi, jangan lupa tersenyum atau bahkan kamu harus tertawa, banyak hal yang bisa kamu tertawakan atau jika sedang tidak ada kamu boleh tertawakan kebodohanku atau bahkan kesedihanku. Apapun asalkan kamu bahagia, bahagiaku. Sudah tengah malam, besok aktifitasku padat sekali. Selamat lelap, sayang.
Jenongmu
Sesekali
"Dear you, no matter how much they love you, I love you even more." Halo dear, kamu tau apa yang saya temukan sepagi ini? Semakin banyak mereka yang menyayangimu, mereka yang menyukaimu dan mereka yang menyemangatimu. Tenang, dear, saya baik-baik saja. Mungkin ini jawaban Tuhan atas doa yang saya pinta agar selalu melapangkan rezekimu, dear, sayangi mereka, mereka bisa jadi pintu rezekimu karena Tuhan selalu menitipkan rezeki dengan cara apapun. Iya, dear, saya baik-baik saja.Tidak ada pemalsuan dari kalimat 'saya baik-baik saja' yang saya tulis sedari tadi karena memang tidak ada yang salah dengan semuanya. Hanya saja, dear, seperti biasa kamu hanya harus bertanggung jawab atas rengekan rasa cemburu saya yang lepas kontrol. Sayang, perempuan mana yang akan selalu dan terus baik-baik saja jika lelakinya diperhatikan oleh perempuan lain? Kalaupun ada, sudah pasti itu bukan saya.Mereka menyayangimu, saya jauh lebih menyayangimu. Mereka menyukaimu, saya teramat menyukaimu. Mereka menyemangatimu, dear, saya tak pernah lelah menyemangatimu. Apapun yang mereka lakukan, saya melakukannya bahkan lebih, tanpa perlu kamu berusaha agar orang lain menyayangimu, tanpa perlu waktu setengah jam untuk kamu merapikan rambutmu, tanpa perlu kamu tampil sempurna dihadapan saya, tanpa perlu kamu selalu terlihat bahagia, tanpa perlu kamu memiliki nama 'Honey', tanpa perlu kamu disebut 'beibh', tanpa perlu mengumbar kata cinta di setiap sosial media. Sesekali kamu harus tau, saya menyayangimu jauh dari apa yang kamu pikirkan tentang seberapa saya menyayangimu. Jangan pernah berhenti melangkah, tentang mimpi-mimpimu, utamakan mereka. Jangan pernah merasa sendiri, meski jauh doa saya selalu menggenggam tanganmu dan sayang saya selalu mendekap tubuhmu.
Demi apapun, Kamu melebihi Apapun
adalah hal yang bodoh meninggalkanmu yang seorang diri. dan adalah hal yang pintar meninggalkan semua yang mengejarku karena demi apapun kamu melebihi apapun, lempari saja aku dengan senyummu aku takkan pernah bosan, asal kau jangan melemparku jauh jauh lalu tersenyum, sama sekali jangan. Dan lagi jangan kau tersenyum lalu melemparku sangat jauh, karena aku bisa saja sewaktu waktu menjadikan senyum sebagai kata yang sangat hina. Tapi tetap tersenyumlah selalu padaku. Karena aku masih memandang senyum itu adalah hal yang paling indah, hal yang paling indah darimu yang bisa masih ku dapat. Ratusan hari aku menanti hari ini akan tiba, tak apa jika hanya senyummu, tak apa jika kau dengan tak sengaja. Karena senyummu adalah senyumku, karena senyumku hanya karenamu. Aku ingat kali saat pertama aku melihatmu, kamu dipenuhi kata yang tak berujung 'keindahan', satu kata yang membuatku sulit untuk tidak untukmu dan aku cinta. Banyak orang bilang cintailah seseorang sewajarnya saja, aku tidak tahu batasan wajar dan wajar itu seperti apa, karena yang aku tahu wajarku adalah apapun untukmu. Aku pikir aku pernah bergerak dengan apa yang aku yakini, nyatanya tidak. Aku hanya mematung disini, seolah pengemis yang menunggu tuannya datang. Aku memang sangat mencintaimu, teramat sangat. Sulit membedakan antara aku mencintai jantungku atau aku kehilangan denyut danimu. Benar, apapun ku kan lakukan untuk menjaga hidupnya nadimu yang ku harapkan itu hangat. Aku rela jika harus menggantikan seluruh nadimu yang sudah tak lagi mengikatmu itu.Tak apa jika kau tak tahu. karena demi apapun, kamu melebihi apapun.
Untuk Tuhan
maaf karena saya telah membuatnya menghadapi banyak kesulitan. tapi untuk kali ini, izinkanlah saya menebus semuanya. menebus segala rasa sakit yang pernah dilaluinya karena saya. saya mungkin tidak pantas dan tidak memiliki hak, tapi saya akan membuatnya bahagia dan akan membuatnya tersenyum. saya tidak bisa menjanjikan selamanya, tapi selama yang saya bisa, saya akan melakukannya. dan jika mungkin suatu saat saya gagal, saya hanya ingin terus berusaha, hingga tak ada lagi alasan bagi saya mencintainya.
Kamis, 26 Mei 2016
Hampa
Pernah kau rasakan kekosongan yang tak kau pahami? Seperti ada lubang yang menembus hatimu. Isi kepala yang amburadul. Atau hari-hari cerah telah melengkapi tawamu, namun tetap kau rasakan kekurangan. Sedemikian kacau sebab tak bisa kau kendalikan.Lalu kau mencoba mencari jawaban di cermin. Mendapati tubuh di hadapanmu sempurna, namun berantakan. Matamu menerawang hal yang entah. Pikiranmu berlarian tanpa bisa kau cegah. Ini perlahan memuakkan. Hingga kau rasa tak ada tempat berteriak yang paling lengang selain dalam hati sendiri. Sesekali kau ingin menangis, namun tak ada air mata yang jatuh. Mungkin samudradi matamu telah mengering, habis menguap bersama awan yang telah lalu. Kau bisa tertawa, namun bukan bahagia. Kau bisa tertunduk, namun bukan bersedih. Tak ada yang bisa kau pahami selain jarum dan benang-benang yang berserakan di sekujur tubuhmu.Kau merasa bagaikan seonggok kayu yang mengapung. Langkahmu mengalir bersama waktu, namun jiwamu beku dalam kotak kedap. Kau tak lagi merasakankeselarasan. Hatimu ingin, namun tubuh dan pikiranmu menolak. Sekali lagi kau menengok ke arah cermin. Kau mendapati jasad segar yang masih bernyawa namun tak berasa. Kau bahkan tak lagi mengenali apa itu rasa. Kau rusak. Hidup dalam kematian.
Langganan:
Postingan (Atom)